merayakan luka
Selamat malam kamu, wahai pemilik nyawa dalam tulisanku....
Bagaimana kabarmu? Ku harap baik-baik saja.
Ah iya bagaimana
hatimu? Baik-baik juga, kan?
Untuk perihal hati, ku rasa kamu akan baik. Tidak ada yang
salah.
Aku terkadang melupakan sesuatu, bahwa kenyataannya hanya
aku yang patah, tidak denganmu. Hanya aku yang merayakan luka dalam lautan
sedih tanpa tepi. Sementara di ujung
sana, kamu sibuk tertawa seolah mengejek lukaku yang tak kunjung sembuh.
Kamu
tau? Sungguh tidak ada yang baik-baik saja setelah kehilangan.
Aku sangat sadar bahwa kamu bukan lagi ‘kamu’ ku. Kamu bahkan
sengaja membuangku.
Dulu, aku selalu mempertahankan kamu, sementara kamu memaksa
lepas.
Bodohnya, aku masih saja menjadikanmu sebagai nyawa dalam
tulisanku. Padahal sejatinya kamu sudah lama menghapus aku dari memori dan
hatimu.
Aku tidak pernah berpikir sebelumnya, jika mencoba untuk
melupakanmu sungguh akan menyiksa seperti ini. Mencintaimu bagai menyerahkan
semesta untuk dihancurkan dengan suka rela.
------sampai bertemu di lain sesal-----
sesungguhnya gue nulis ini bukan karena lagi galau atau tidak bisa melupakan sesuatu. tapi memang gue habis baca salah satu novel karya cecilia wang, dan itu sangat sangat pilu menurut gue. okay, just it. gue cuma mau menjelaskan bahwa kenyataannya gue buat tulisan ini tidak berdasarkan dengan suasana hati. silahkan di komen atau di hujat juga gapapa.
Hhaha masak seh. Biasannya lu kek gtu juga cans. Tpi nice kok tulisanmu. Kek kesimpulan pengalamanny orang"
ReplyDeletempok, minta duit.
ReplyDelete